Kenapa judulnya pakai kata “Kisah Kasih”?
Karena, kata “Cinta” atau “Asmara” itu terlalu bermakna
dalam. Aku belum menyelami sampai sedalam itu.
Aku sebenarnya agak minder buat nulis Post ini. Tapi ada
sesuatu yang mau aku share di sini berdasarkan pengalaman pribadi. Dan juga,
ada sebuah fakta yang menurut orang “memalukan” banget di jaman sekarang, tapi
justru fakta itu menjadi keistimewaan tersendiri buatku.
Bicara soal masa muda, pasti nggak lepas dari ketertarikan
antar-lawan jenis. Iya! Itu wajar kog. Normal. Bahkan harus!!
Coba kita lihat sekitar kita.
Kira-kira berapakah umur pasangan termuda yang pernah kalian
temui?
Umur berapakah kalian
pertama kali jatuh cinta?
Umur berapakah kalian
pertama kali punya pasangan?
Sejauh yang aku lihat, banyak anak yang masih di kisaran
usia SD udah punya pasangan, atau kalau belum sampai sejauh itu, katakanlah
mereka sudah mengenal “cinta monyet” dan tertarik ke lawan jenis.
Coba lihat lagi di sekitar kita.
Adakah temanmu di media sosial yang merupakan anak SD atau
SMP (umur 10-14 tahun)? Apakah kamu tahu relationship-status mereka? (Ya
walaupun nggak dicantumin). Di antara mereka itu, adakah yang menurut kalian
sudah pernah berpacaran? Kalau ya, kira-kira apa isi updatean status media sosial mereka?
Bukan hanya sekedar updatean status, kira-kira apa isi pikiran mereka?
Kalau di media sosialku, ada beberapa anak di kisaran umur
itu yang udah berpacaran. Isi media sosial mereka ya nggak jauh-jauh dari
cinta-cintaan, galau-galauan, emosi yang meluap-luap (yang terkadang frontal,
nggak elegan, bahkan kadang lebay). Isi pikiran mereka? Ya nggak jauh-jauh dari
isi update-an status mereka. Kesannya aku terlalu men-judge ya.. anggap aja itu
sampel untuk postingan ini, biar makin jelas arah dan tujuan postingan ini.
Untuk anak-anak dengan kategori di atas, kira-kira di usia
SMA bagaimana habbit mereka? Kalau menurutku sih tergantung anaknya ya.. ada
yang baik-baik saja, ada yang nggak baik-baik saja.
Aduh, aku kehabisan ide buat basa-basi nih. Jadi langsung
aja ya opiniku.
Yang aku lihat, ABG-ABG yang udah mulai bisa pacaran itu
kasian. Kenapa? Karena mereka dipaksa buat dewasa lebih dini. Apa yang mereka
punya jadi terbatas. Bukan cuma waktu, ruang di pikiran mereka pun jadi
dibatasi. Hati mereka juga dipaksa buat kerja lebih berat dari yang seharusnya.
Memang sih yang masih usia SD statusnya masih main-main aja. Tapi tetep dipaksa
dewasa. Intinya nggak free. Semakin mereka beranjak dewasa, fokus mereka juga
jadi nambah. “Fokus nambah” artinya yang dipikirin jadi banyak, ujung-ujungnya
nggak fokus. Apalagi kita tau, umur di bawah 18 tahun itu masih kategori labil.
Ini beberapa deskripsi contoh riil-nya. Aku pernah punya
temen yang perdana pacaran pas SMP. Ya walaupun aku nggak deket-deket banget
sama dia, cuma yang aku lihat dia ini jadi lebih centil, dan mellow. Nggak free
gitu. Lebih ngejaga penampilan dan jadi lebih dewasa dari usianya.
Satu yang mau aku garis bawahi. Mereka semua dewasa sebelum
waktunya.
Oh iya, gaya pacarannya pun kadang hmm.. ya gitu deh. Kok
kadang aku geli sendiri ya. Bahasa kasarnya: “norak”. Mungkin kalau mereka udah
dewasa nanti dan pola pikirnya udah normal, mereka geli juga.
By the way, aku mau Jawab dua pertanyaan yang tadi aku ajuin
diatas.
Umur berapakah kalian
pertama kali jatuh cinta?
Mungkin hal itu pertama kali aku sadari di umur 6 tahun. Dan itu menurutku monkey-love.
Jangan tanya siapa orangnya, jangan tanya sampai berapa lama. Jangan tanya jadi
apa enggak. Tapi orangnya udah tau kok.
Umur berapakah kalian
pertama kali punya pasangan?
So do I, I also do not know in what age I’ll have a partner for the first time. (?????). Yup! Your conjecture absoloutely right. I never been
in a relationship with someone before, until this time. And this fact is makes me
feel special.
Yang aku syukuri adalah aku nggak terlalu cepat dewasa. Aku
merasakan proses. Aku dilatih buat sabar dan fokus. Waktuku dengan keluarga
dan teman-teman nggak banyak tersita. Memang sih awalnya iri dengan mereka.
Tapi itu nggak sampai mencabut nyawaku kok. Kadang heran, apa yang bisa
ngebuat mereka cepat dapat pasangan, apa yang cowok itu lihat dari si cewek. Dan
aku baru sadar, alasannya adalah ketika itu aku terlampau cuek dengan diriku sendiri. Iya, di
penampilan dan karakter. Aku nggak tau gimana caranya tebar pesona. Mungkin
Tuhan tau kalau aku pun memang belum siap untuk ngurus hal “seberat itu”.
Semakin ke sini aku sadar, kalau status “single dari lahir”
itu bukan aib.
Pelajaran dari kebebasanku selama 20 tahun ini adalah aku
diajarkan untuk jadi pengamat. Selama 20 tahun aku bisa mengamati dan memilah
mana yang dapat kulakukan dan harus kuhindari di hubungan yang akan segera aku
temui nanti. Misalnya untuk nggak terjebak di kisah beda keyakinan.
Dan satu
lagi, aku nggak banyak buang-buang waktu dengan orang yang salah (yang ujungnya
menimbulkan drama, mantan “tar-enggak-banget lah”, atau cerita tentang belum move on dari mantan).
Oh iya, jangan berpikiran kalau selama 20 tahun ini aku sama
sekali nggak ngerasain asam-manisnya rasa itu yaaa! Aku ngerasain juga kok.
Yang kita tau, daya tarik itu dilihat pertama dari
penampilan kan. Nah, yang kurasain, melalui proses panjang ini juga, Tuhan
bukan cuma merubahku dari segi penampilan, Dia mempersiapkan sisi lain melalui
proses-proses yang awesome. Dia mau aku dilihat bukan hanya dari fisik, tapi
jiwa.
Bisa jadi juga, dengan tidak menempatkan aku di banyak
hubungan yang memerlukan komitmen itu, Tuhan mau aku di masa depan nanti nggak
terjebak nostalgia (kayak lagunya Raisa) dengan mereka.
Harapanku, buat adik-adik ABG, nikmatin dulu hidup kalian.
Masih banyak pengalaman dan karya-karya yang bisa kalian ukir.
Untuk yang senasib (hahahah), tenang, He is preparing us to
face an elegance relationship, without more dramas..
Komentar
Posting Komentar