"Nah, hobinya sama. Cocok! Pasti langgeng."'
"Yang satu kalem, yang satu rame. Cocok! Saling mengisi."
Dua pernyataan di atas terlihat berbeda, tapi tujuannya sama. Menilai kecocokan dua orang untuk jadi pasangan. Mana yang paling baik, pernyataan pertama atau kedua? Pasangan itu harus dua orang yang sama atau berbeda sih?
Baru-baru ini aku mempelajari hal baru tentang karakter dua orang yang sedang mencari kecocokan di satu sama lain.
Sederhananya begini:
Perempuan penyuka matcha.
Laki-laki suka kopi.
Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi:
1. Masing-masing tetap bertahan dengan minuman favoritnya. Tidak saling mengganggu.
2. Perempuan sesekali akan mencoba menikmati minum kopi. Pikirnya, apa salahnya mencoba hal baru, tapi dia tetap bisa menikmati matchanya di lain waktu selama ini dilakukan bersama si Laki-laki. Begitu juga si Laki-laki yang akan mencoba menikmati minum matcha bersama si Perempuan. Mereka memiliki hubungan yang lebih luas karena melihat 'dunia' baru yang sebelumnya tidak familiar.
3. Perempuan akan memaksa si Laki-laki untuk hanya menyukai matcha dan meninggalkan kopinya.
Perempuan dan Laki-laki sama-sama menyukai kopi.
Yang mungkin terjadi:
1. Mereka akan mengeksplorasi segala hal tentang kopi. Mungkin juga menjadwalkan kunjungan ke beberapa kedai kopi. Mereka memiliki hubungan yang mendalam karena kopi.
2. Mereka akan merasa jenuh karena harus selalu membicarakan hal terkait kopi.
Berbeda atau sama, pada akhirnya kembali ke masing-masing penerimaan kedua pribadi yang terlibat.
Menerima perbedaan sebagai kekayaan agar bisa melihat dunia dengan lebih luas,
Atau menyambut kesamaan untuk menciptakan hubungan yang lebih mendalam.
Komentar
Posting Komentar